Selasa, 06 Mei 2008 di 22:47 | 0 komentar  

Eforia Nisan Kejujuran

Haqrah dewi

Rupanya tak ada yang bisa lagi dipertahankan di sini. Yang namanya kejujuran entah sudah melapuk, busuk dan terlupa. Sedari tadi aku mencarinya. Tapi tak ujung jua nampaknya kudapat. Entah karena borok di mataku atau wujudnya sudah demikian usang untuk dikenal lagi. Yang sedari tadi bercokol hanya dia. Dengan garang matanya yang menohok ia mengamatiku. Aku layu dalam rasa sendiri, ia kini sudah hilang. Tak tahu ke mana. Bosan rasanya harus mengeruk idealisme yang didiktatori oleh nadi-nadi kenaifan sendiri. Aku butuh dia. Dan sekarang ia sudah musnah ditelan, terkemuflase sebagai nisan dalam sejarah. Sejarah dalam tanda kutip “Tidak untuk diingat”.

Sudah lama aku di sini. Menunggu tanpa kata. Hanya mataku yang sedemikian jelalatan menyapu tiap sudut. Tapi aku tetap luput dari dia. Mataku sudah begitu mendambanya. Sekian waktu sudah kulewati tanpa cengkrama dengannya. Tanpa hangatnya bauran rasa. Kini aku mencarinya di sini. Tapi hasilnya nihil. Ia mungkin masih enggan tuk tampak. Kian tak terjamahlah ia dari jangkauannku. Sungguh kami dulu adalah dua keping yang berbeda yang entah atas kuasa siapa bisa beronani pada titik yang sama. Itu dulu. Sekarang kami benar-benar adalah dua keping yang terpisah tanpa bisa bergulat lagi pada titik yang sama. Kami sudah terpisah oleh medernisasi.

Kata mereka, sahabatku itu telah larut pada kata musnah. Terhenyak pada bingkai kata terbuang. Ia malu kini menampakkan mukanya. Tapi entah kenapa aku terus saja menantinya. Pelik rasanya terus begini. Berada pada ruang asing tanpa ada satu halpun yang dikenal. Seperti itu aku sekarang. Sendiri bertempur dengan arus tak bertepiku yang ganas. Entah itu harus kupanggil rasa takut atau rasa kehilangan. Mungkin keduanya.

Aku masih mencarinya. Menepikan mataku pada sosoknya yang mungkin ada di sini. Tak ada hasil. Yang kulihat hanyalah mereka yang sedang sedu sedan bersama lolongan girang tak terhingga. Aku mengenal salah satu dari mereka. Tapi lidahku menolak mengeja abjad namanya. Ia terlalu garang untuk ku sebut. Mata kami sempat bergulat pada detik yang lalu. Tapi buru-buru kualihkan. Aku tak berani membiarkan retinaku terkoyak bara matanya. Ia adalah sosok asing yang bersebrangan dengan kami. Aku dan sahabatku.

Mata kami kembali beradu. Syahdu nian suasana hening itu. Tapi kemudian berjingkaklah aroma kebahagiaan yang sangat. Aku tak berani menepikan tatapanku di retina matanya lagi. Tak sanggup. Ia kelihatan sangat bahagia. Mata garangnya tak henti mengerjap. Sungguh ia sangat bahagia. Tapi saat ia menatapku, sepersekian detik ia meratap lalu berucap bengis tanpa intonasi.

“Lupalah kau pada dia!!! Seperti kami yang sudah membuang ia ke tempat tak bertepi. Jangan lagi kau ingat dia. Kini kau sendiri….ha..ha..ha..”. tawa itu membuat ulu hatiku beringsut tidak karuan. Ia menjerit tak terkira. Memang aku benar-benar sendiri sekarang. Limbung di sudut pengap tanya. Tanya yang tak pernah akan terjawab. Mungkin aku juga harus mempersiapkan nisanku sedari kini.

“Benar. Kami sedang merayakan semarak hari ini. Sebuah eforia nisan kejujuran. Tak akan ada lagi dia di sini. Sungguh ini adalah kemenangan sepanjang waktu….” Ucap yang lainnya masih dalam satu frame kebahagiaan. Aku tak mengenalnya. Tapi ia sama-sama merayakan kepergian sahabatku. Aku semakin terbuang di celah pikiranku sendiri yang semakin sempit. Sungguh tak adakah yang tersayat ibanya saat dia telah pergi?

“Ha..ha..ha iba?!!!” tiba-tiba ia kembali bersuara. Sunguh aku tak bisa mencegah rasa kagetku menari di ubun. Ia tahu hatiku menyeruak. Ia tahu fikiranku mengagas. Ia telah meraja di tiap jengkal nafasku. “Tak ada yang iba padanya. Ia sudah lama menjadi tameng tak berperasaan bagi para manusia modern. Ia sudah menjadi idealisme terbuang yang sudah tidak layak lagi…..dan kukatakan padamu sebaiknya mulailah meretas pada perubahan ini supaya kami tak perlu lagi menari-nari di atas nisanmu seperti dia.”

Aku semakin tersungkur. Membayangkan mereka membahak di atas nisanku kelak membuat jari-jari semangatku kerdil. Haruskah manusia kutinggal dengan hati yang benar-benar telanjang?! Tak berbalut apapun. Sekarang saja mereka sudah sedemikian asing dengan sahabatku yang baru pergi sekian waktu yang lampau. Bagaimana jika aku juga menjadi bagian dari sejarah dengan sejuta kutip itu? Lalu apakah mereka benar-benar harus beralih pada si pemilik tatapan garang itu. Sungguh aku tak sanggup membayangkan hal itu. Aku harus membangun optimismeku yang tercekat bersama pekat. Yang menyungsep tanpa wujud. Aku harus membangunkannya.

“Kenapa kau diam? Sungguh tak masukkah semua kata-kataku dalam pikirmu?” ia kembali berkelakar. Masih tanpa intonasi jelas. Aku tersadar . Dengan rasa gamang yang sangat aku menantang matanya. Mencoba menyusun kata yang bisa membuat ia yakin aku masih bisa ada meski tanpa sahabatku….toh dengan aku saja mungkin sudah cukup……….

“Mereka memang sudah mulai kehilangan semuanya. Kalianlah yang menjadi raja diraja dari mereka. Tapi bukan berarti aku harus merelakan semuanya pada kalian. Sungguh jangan pernah berfikir demikian karena hal itu tak akan terjadi.” Dengan sedikit keberanian aku bertuah. Menyembunyikan rasa kecewa yang terus menggeliat di balik hatiku. Jangan sampai ia tahu itu. Ia akan merasa menang nantinya. Tapi sungguh itu hal yang mustahil. Bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan rasa kecewaku, sedang manusia sekarang benar-benar sudah tak mengenal kami lagi!!!!! Pada akhirnya merekalah yang akan menggiring kami pada nisan sejarah. Sebuah sejarah yang tak punya tempat di kepala mereka untuk diingat lagi.

“Mungkin kau memang tak akan pernah merelakan hal itu terjadi. Tapi bukankah temanmu itu terlupa dengan sendirinya?!! Dan ia tak bisa menghindar karena manusialah yang menghendaki. Dak kamilah yang pada akhirnya menjadi tameng hidup mereka, panutan dalam segala hal….,kalian benar-benar telah terlupa.” Ia mencibirku. Membuatku semakin kehilangan rasa optimis yang mungkin sekarang sudah menguap. Ia benar. Manusialah yang mau begitu. Kami hanya pilihan. Tak bisa ngotot untuk dipilih. Manusia-manusia itu tetap tonggak segalanya.

“Rupanya kini kau mengerti” ia bersuara lagi. Aku tenggelam dalam desahannku. Ia kelihatan sangat puas.

“Aku sangat tahu merekalah yang jadi penentu segalanya. Kami hanyalah salah satu pilihan dalam sekian banyak pilihan yang mereka punya dalam hidup mereka. Tapi bukankah jauh lebih baik menjadi pilihan yang akan tetap ada daripada menjadi onggokan terbuang. Aku tak mau terbuang. Aku akan tetap ada meskipun hanya segelintir dari orang-orang itu yang memilih aku.” Aku mendesis. Kata-kataku membuatnya menekuk muka.

“Mungkin kau memang tak akan musnah dalam artian yang sesungguhnya. Tapi kau akan tetap menjadi pilihan bagi mereka yang tak akan pernah terpilih. Bukankah hal itu lebih mengecewakan.” Ucapnya tanpa membiarkan mataku beralih kemana-mana. “ Sudahlah, jangan kau gamang dalam tunggumu yang tak bertepi itu. Mari larut bersama kami dan rayakan kematian sahabatmu itu. Dan tentu kau akan kembali menjadi pilihan terpilih dalam hidup para manusia.. tapi syaratnya kau harus jadi bagian dari kami” Ia menawarkan ku sesuatu yang sangat mustahil. Aku menggeleng tegas. Lebih baik aku menangis di atas nisanku sendiri ketimbang harus merayakan eforia itu di atas nisan sahabatku. Lagi pula aku masih percaya aku dan sahabatku masih dibutuhkan, mungkin waktu mendatang….kami akan selalu percaya itu. Aku membatin dalam bimbang ragaku.

“Maka berdirilah dalam tempat terbuang itu.” Ucap si pemilik mata garang itu. Sekali lagi ia menelanjangi pikiranku. Ia kemudian pergi. Ia dan semua perayaan itu. Sekarang aku tinggal sendiri di depan nisan yang masih menyisakan sejumput sedih di kelopak mataku.. Iya, panggillah aku si goblok karena masih menunggu si empunya nisan untuk bangkit.. Mereka menamainya KEJUJURAN dan aku mereka panggil dengan sebutan KEADILAN. Sedangkan aku dan sahabatku menamai mereka KESERAKAHAN.

Lalu tanyakanlah padaku segera seolah kalian terseok dalam bimbang! Memangnnya tanpa kejujuran mana ada keadilan ?!!! Terlalu naïf rasanya mengadu keadilan dan keserakahan. Jika kejujuran mati maka semuanya juga akan mati!!! Aku yang kalian panggil keadilan ini baru akan ada jika temanku yang kupanggil kejujuran itu ada, karena semuanya dimulai dari situ! Lalu jangan menuntut aku yang kalian panggil Keadilan ini ada jika jauh hari yang lalu kalian manusia sudah binal membunuh ‘Kejujuran’!!!!!!!

Aku mulai meratap pedih memikirkannya. Aku di sini hanya menunggu mati saja bukan? Dan malaikat pun menangis untukku….

Diposkan oleh aqla siput Label:
Rabu, 30 April 2008 di 03:01 | 0 komentar  

Panggil Aku Flo Si Pembunuh

Haqrah dewi safytra . B

Es krim itu tumpah. Tepat mengenai baju putihku. Mulutku menganga lebar, hampir tidak percaya pada kejadian yang menimpaku siang ini. Murid-murid lain yang lalu-lalang di sekitarku berhenti, menunggu detik demi detik luapan emosiku. Kugeser letak kacamataku ke atas lalu menatap pada orang yang telah menumpahkan es krimnya ke seragamku yang putih bersih.

“M-m-ma-af…..”, ucapnya terbata. Seorang cewek setinggi telingaku. Murid kelas dua kelihataannya. Tenang….Tenang, Flo….Banyak yang sedang memperhatikanmu sekarang….. batinku menenangkan.

Batinku benar. Aku tidak mau merusak nama baikku hanya karena masalah ini. Aku, Flo, berdarah biru, berotak encer, sopan, santun, cantik, multi-talenta, dikagumi banyak orang, lembut dan sederet kebaikan lainnya. Aku tidak boleh mencoreng arang ke mukaku sendiri, setidaknya itu yang selalu didengungkan papa padaku!

Aku memandang sekeliling lalu kembali menatap gadis itu. Aku tersenyum. Semanis mungkin. “Gak pa-pa, kok!”, nada riang palsu meluncur dari bibir mungilku. Semua orang melotot tidak percaya, termasuk gadis itu. “Lain kali kamu lebih hati-hati ya?” aku tersenyum berusaha menahan gejolak dalam dadaku lalu berjalan ke kamar kecil. Membersihkan noda es krim keparat ini.

Aku duduk di atas kloset, gelisah. Benar-benar gelisah. Kuremas tanganku yang dingin oleh keringat. Apa?! Apa yang bisa menjadi bahan pelampiasanku sekarang?! Apa?! Pandanganku mengedar ke pojok-pojok kamar mandi dengan tergesa-gesa. Apa yang bisa kucabik-cabik?! Ada seekor cicak, tidak terlalu tinggi untuk kujangkau.

Aku berdiri gamang dan sempoyongan, lalu pergi ke tempat cicak itu masih menempel. Kurogoh kantong rokku dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang selalu kubawa kemanapun. Pisau yang sudah sangat sering kugunakan untuk mencabik apapun yang bisa membuatku lebih tenang. Pisau yang selalu menyelamatkan aku dari gelisah yang selalu mengubun dan tak tahu harus kuapakan.

“Mati! Mati lo sekarang! Lo pikir lo siapa berani numpahin es krim ke baju gue?!” Aku membunuh cicak tak berdosa itu. Menusuk-nusuk badannya. Binatang malang itu jatuh ke lantai setelah mendapat tusukan bertubi-tubi dariku. Setelah melihat ia tak bergerak, entah kenapa perasaanku menjadi begitu tenang dan tak ada gelisah itu lagi. Benar-benar menguap.

Aku keluar dari toilet. Tenang dan anggun. Seolah tak terjadi apapun. Aku sudah terbiasa dengan ini, jadi tak ada yang bisa menebaknya hanya dengan melihat gerak-gerikku. Itulah aku, entah dengan kata apa aku mengungkapkannya. Em…bukankah aku hebat? Aku mampu menyimpan rapi semuanya persis seperti papaku yang ningrat itu inginkan. Meskipun kehebatan menyembunyikan semuanya kadang membuat hati kecilku miris……aku tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi padaku. Tapi sejujurnya aku tak mau tahu!

* * *

Sebuah penghapus karet melayang ke kepalaku. Aku menoleh ke belakang lalu kulihat Neta sedang menatapku gelisah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang jelas tidak gatal. Gelagatnya sudah terbaca olehku!! “Nomor dua…”, ucapnya mendesis kemudian.

Aku berbalik. Kurobek selembar kertas lalu menuliskan jawaban soal nomor dua untuk Neta yang tak tahu diri itu. Aku melempar kertas itu padanya dengan kebencian yang berusaha kuredam. Lalu kepalaku kembali kejatuhan sesuatu. Kali ini sebuah kertas. Lagi-lagi ia mengemis jawaban dariku. Aku menuliskan jawaban soal nomor lima dan enam lalu melemparkannya. Huh....mereka memang tak tahu malu. Mereka memperlakukan aku seenaknya. Memangnya mereka anggap siapa aku in!!!”, aku membatin. Amarah itu datang lagi, aku merasa dadaku berdebar-debar nyaris tanpa irama.

Selang beberapa detik Mia, teman sebangkuku, menarik lembar jawabanku tanpa minta izin terlebih dulu. Aku sangat kaget, keterlaluan sekali mereka!!! Tapi aku hanya bisa menganga. Detak jantungku semakin tak terkontrol. Keringat dingin itu kembali mengucuri seluruh badanku. ”Kenapa dia begitu tidak sopan?!”, Teriakku sekuat tenaga dalam hati kecil.

Aku pulang dengan gelisah yang tak berhenti walaupun tubuhku telah banjir keringat. Di mobil, aku hanya diam dan meledak marah ketika supirku mengajak ngobrol. Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar. Lagi-lagi aku duduk sambil meremas tangan yang basah. Aku memandang ke seluruh penjuru kamar. Tidak ada cicak. Tidak ada kecoa. Tidak ada tikus, apalagi nyamuk atau hanya seekor lalat. Semuanya tak tampak lagi di mataku. Biasanya kalau sedang gelisah mereka sangat jelas tampak di mataku.

Aku berlari ke belakang rumah. Berharap masih ada yang tersisa di kandang. Tapi begitu aku sampai di sana, kandang-kandang itu kosong melompong. Burung-burung di kandang pertama sudah habis kubunuh setiap aku merasa gelisah karena sikap teman-teman sekelasku yang kurang ajar.

Iguana di kandang kedua juga sudah tidak ada. Kubunuh pada saat aku gelisah karena orangtuaku yang super-duper sibuk melupakan ulang tahunku lagi dan lagi. Lalu sekarang apa yang bisa kubunuh untuk meredakan kegelisahan ini?! Apa yang bisa kutusuk untuk melenyapkan emosi terendap ini?! Apa!!!

Tiba-tiba seekor kucing melompat memasuki halaman belakang rumahku. Lama aku memandangnya, terdiam dan berfikir semenit lalu masuk ke dapur dan mengambil sebuah pisau panjang untuk mengoyak-ngoyak isi perutnya.

“Apa orang seperti kalian pantas disebut teman?! Kalian benalu! Hanya benalu! Seenaknya memperlakukan aku begitu?! Keparat, memangnya kalian fikir aku siapa?!!!!”, aku tenggelam dalam emosi yang tak terkontrol lagi. Bagiku ia bukan seekor kucing, ia adalah keparat-keparat teman sekelasku yang tidak tahu diri itu. Aku terus mencabik-cabik kucing yang telah tanpa nyawa itu.

Terus kusayat-sayat hingga kurasa gelisahku telah tiada.........

* * *

Sore itu adalah sore yang penuh kejutan. Yuda, orang yang paling kusayangi di dunia ini tiba-tiba datang setelah hampir beberapa minggu aku tak melihatnya. Tadinya aku pikir Yuda mau menghindar dariku. Tapi aku salah, buktinya ia datang padaku sore ini. Kontan saja aku memeluknya. Meluapkan rasa bahagiaku padanya. Aku menawarinya macam-macam, tapi dia menolak. Dia bilang tidak bisa lama, hanya perlu beberapa menit untuk bicara padaku.

“Flo, aku mau putus.”

Aku beku. Kaku.. Kata-kata itu begitu mudah meluncur dari mulutnya. Tanpa ragu-ragu Yuda menatapku. Aku bisa melihat keseriusan di matanya. Yuda benar-benar ingin memutuskanku. Mata itu terlalu tajam untuk sebuah canda!

Pantas saja ia langsung melerai pelukanku. Menolak ditawari macam-macam. Dan bilang hanya butuh beberapa menit untuk bicara denganku. Aku diam. Terus diam hingga Yuda berpendapat aku setuju. Rengekanku agar ia tidak memutuskanku tercekat di leher. Dan akhirnya Yuda pergi tanpa memberikan alasannya.

Yuda. Orang yang paling kucintai di seluruh dunia ini tidak mencintaiku lagi........Aku berlari ke kamar. Duduk di sudut tempat tidur. Meremas kedua tanganku yang kini lebih banyak berkeringat dari biasanya. Kali ini pandanganku tidak lari kesana-kemari seperti biasanya. Aku hanya menatap kosong ke bawah. Tiba-tiba memori lapukku dipaksa berputar lagi ke belakang. Ke moment-moment yang berusaha aku kubur sekian tahun lamanya. Seketika semuanya menari jelas di mataku.....menggelitik luka yang tadinya kukira telah tersimpan rapi di dalam sudut hatiku yang pengap tanpa harus nyantol di memori dan kemudian teringat lagi....!

Ah.aku benci sesi ini, sungguh!!! Sesi yang selalu membuat perasaanku terombang-ambing dalam gamang yang tak berkesudahan. Dan karena itulah aku sangat membenci sesi ini!! Tapi memori lapukku yang demikian usang tetap saja memutar adegan itu di mataku...........sehingga semuanya terlihat begitu jelas...Jelas...........

Jelas.........Jelas.......jelas........

...............j......e....l....a.....s..............

.....semuanya terlihat bak adegan dari roll film tua yang diputar kembali........

“Papa tidak mau dibuat malu lagi dengan ulah kamu! Kita ini keluarga ningrat! Apa salahnya menahan emosimu dulu dan meluapkannya di rumah agar tidak ada seorangpun yang tahu!!!!!!”, lelaki yang kupanggil Papa itu bahkan tidak sudi menoleh padaku hanya karena aku berkata kasar pada gadis yang menghina gaunku pada pesta ulang tahun Opa. Gaun itu hadiah dari Oma yang kini telah tiada. Dan bagiku, menghina gaun itu sama saja dengan menghina oma dan opaku!!!!!

“Mulai sekarang kamu harus bisa mengendalikan emosimu! Pecahkan saja barang yang kamu inginkan di rumah! Tapi tidak di depan orang! Ingat kamu itu bukan orang biasa Flo............kamu ningrat!!!! Apa kata orang-orang kalau kau berkelakuan kasar di luar sana!!! Mulai sekarang jaga sikapmu, mama tidak ingin mendengar kamu bersikap kasar pada siapapun, kita ini ningrat Flo, mengerti?!”, perempuan setengah baya yang bisa kupanggil mama itu juga melotot padaku seolah aku bukan anaknya. Urat di lehernya menegang. Mukanya saat itu tak lebih mengenakkan dari monster sekalipun! Monster yang selalu membuat aku tak bisa memejamkan mata waktu aku kecil dulu.

Tubuhku terus bergerak maju-mundur. Aku tidak bisa menghentikan otakku yang terus-terusan memutar ulang kejadian itu. Hatiku semakin resah. Jiwaku bertambah gelisah. Tuhan...bantu aku melawan rasa aneh ini, rasa yang tidak pernah aku inginkan!!!!

Aku melihat gunting di atas meja belajar. Berpikir apa yang bisa kucabik kali ini. ”Yang kali ini harus lebih dahsyat dari yang kemarin-kemarin!”, Batinku menghasut. Kuraih gunting itu lalu duduk di pojok kamar. Mulai menusuk-nusuk. Lalu mengalirlah darah segar. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Darah merah itu merembes dari bajuku dan tergenang di lantai.

Aku terus mencabik-cabik hingga kurasa pandanganku mengabur. Mataku perlahan menutup, perasaan damai itu merasuk perlahan dalam hatiku. Aku yakin ada di tempat lain. Menit kemudian aku merasa semuanya hampa, gelap dan sunyi yang melumat. Lalu aku sudah tidak sadarkan diri. Bahkan tidak ada lagi rasa nyeri yang kurasa ketika aku mencabik perutku sendiri. Nyeri dan perih itu telah mati, dibunuh oleh emosi terpendam yang sebenarnya tidak pernah hilang, karena aku tidak pernah diajari cara memaafkan.

Mungkin mama dan papa lupa membekali aku dengan itu. Karena yang aku ingat hanyalah aku Flo, gadis ningrat yaang tak boleh menunjukkan rasa marah dan kecewa di depan umum. Aku bisa melampiaskan emosiku sesuka hati, tapi tidak di depan siapapun!! Dan sekarang panggilah aku Flo si Pembunuh yang menikam dirinya sendiri hanya untuk sebuah penat.........

Selesai

Diposkan oleh aqla siput
Senin, 28 April 2008 di 03:03 | 0 komentar  

Raga Itu Bernama Perempuan

Kalau siang terjungkal malam,

Saatnya nafas memburu

Tak semerdu desahan agaknya

Ia berliku pada raga yang salah

Raga yang telah jadi budak sepanjang zaman

Tak bergairah sampai senja mengubun

Kalau boleh menerka remang itu

Apakah raga singgah pada dunia gamang nan jalang?

Sampai nasib segini bengalnya.

Katanya ia ibu dengan raga penuh kasih

Namun katanya lagi ia sudah seok pada titik tak terjamah

Fikirannya tak lagi hidup

Hanya ada liku-liku jengah di dalamnya

”Makan apa nanti siang....Beras sudah habis rupanya.....Si upik jajannya pakai apa

Kenapa minyak semakin mahal saja........?”

Sungguh raga semakin usang, ia tak lagi mati tapi hidup juga bukan

Sedu pada tangisnya tak lagi semarak

Mengering dan menjadi borok beban sepanjang hidup

Tapi raga itu menyebutnya pengabdian....

Simbolik dari galau

Dan raga itu selalu dipanggil perempuan

Perempuan dengan ketidakberdayaan..

Lalu pada titik itu…

Saat raga rapuh untuk menopang hidup yang semakin tidak masuk akal

ia tak berdamai dengan air mata lagi

Ia memilih diam dalam damai yang dikiranya abadi

Meninggalkan si upik, anaknya yang berteriak histeris pada tetangga

“Mamak gantung lehernya di pintu WC!!!!!”

Haqrah Dewi Safytra

Diposkan oleh aqla siput Label:

“Selamat Hari Kartini,” katanya

Haqrah Dewi

Selamat pagi pada bunga yang setengah layu aku ucapkan

Semoga harimu tanpa duri bak yang lalu

Karena kemarin sebuah kalimat seolah agung

Tiap mulut menggaungkannya bangga

Meskipun setengah terseok nurani

Nurani binal seorang tiran

Selamat pagi lagi bagimu bunga duka, aku berkata lagi

Jangan terseret kata itu....aku meminta

Perih itu tak lagi tidur

Ia menganga lebar

Semakin hari kisahnya makin cabul

Banyak nafas yang beronani pada titik sekarat

Bersama jiwa-jiwa perempuan yang terjungkal tradisi

dan birokrasi........

Lalu hari ini kita lupa padanya

dan mulai mendengar eforia itu lamat-lamat

Selamat hari Kartini katanya....

Kemudian aku tersayat pilu.....sunyi yang melumat

Puih......jangan ucapkan selamat pada Kartini!!!!!

Jika tentang Marsinah saja belum kelar

Juga luka si Wati yang belum sembuh

lantaran kejedot amarah lakinya karena lupa buat kopi

Sungguh jangan katakan selamat itu pada Kartini

Luka itu belum sembuh......

Kartini masih menangis

Belum saatnya ia di beri selamat......

Diposkan oleh aqla siput Label:
Minggu, 27 April 2008 di 05:51 | 3 komentar  

Oh My God…..He Is So Dumb!!!!!

Namanya Eric, hanya itu yang bisa aku katakan pada Lulu. Soalnya dadaku sudah sesak dengan semua kelebihannya dia. Cakep, kaya, badannya atletis, anak band, model dan sekarung cerita lagi tentang Eric. Semuanya membuat aku serasa ingin menjadi pacarnya segera. Mendengar itu Lulu malah bergidik jijik padaku. Apanya yang salah....?

. Aku, dan hampir semua cewek di sekolah ini terkena virus Eric. Sebenarnya minus satu orang. Iya…tepat, Lulu sepupuku yang super pintar, keras kepala, dengan pemikiran yang terlalu konservatif. Gadis yang doyan marah-marah, pemakai kawat gigi dan ini yang terakhir….mata dengan kacamata berlensa aneh. Sebutan familiarnya ‘pantat botol’. Sebenarnya aku tidak tega menceritakan itu semua. Tapi Lulu memang begitu kok

Apa? Kau tanyakan aku seperti apa? Baiklah akan aku sebutkan bagaimana aku. Aku Vanessa. Aku sebenarnya tidak terlalu cantik. Tapi berkat salon semuanya jauh lebih enak untuk dipandang. Itu perbedaan pertamaku dengan Lulu, aku doyan salon dan Lulu anti salon. Perbedaan kedua adalah aku orang yang mudah jatuh cinta sedangkan Lulu mungkin tak pernah jatuh cinta. Tapi biarpun ia seaneh itu, aku tetap sayang padanya. Kami juga punya kesamaan kok. Aku dan Lulu sama-sama suka dengan Sains, Sejarah, dan Politik. Jika diskusi dengannya rasanya aku dapat informasi yang banyak. Bahan diskusi kami mungkin aneh untuk anak SMA makanya tak ada yang pernah gabung dengan aku dan Lulu saat diskusi. Padahal menurutku bahannya bagus kok. Politik nuklir, rekombinasi DNA,......bukankah itu sangat menarik untuk dibahas. He.he...he...mungkin skala menariknya hanya aku dan Lulu yang dapat. Jadi sangat wajar jika aku dan Lulu nyambung dengan semua pengetahuan ekstra yang kami punya.

Tapi dengan cukup menyesal aku harus katakan sebuah pengecualian. Lulu tidak nyambung lagi kalau aku mulai bicara soal Gossip, itu perbedaan ke tiga kami. Aku fleksibel dan lulu konservatif. Bagiku gossip juga perlu supaya hidup kita lebih berwarna. Dan bagi Lulu semua itu cuma buang-buang waktu.Tapi dari semua yang kau tahu tentang Lulu dan aku, ada satu hal yang harus kau ingat. Aku sayang Lulu...

Sejak Eric jadi murid baru di kelasku, aku jadi cewek terajin yang hadir di parkiran. Soalnya aku ingin menjadi cewek pertama di setiap pagi yang melihat Eric datang ke sekolah. Padahal dulu aku miss telat. Sebenarnya aku cukup tersiksa dengan semua ini tapi demi Eric apapun akan aku lakukan. Lulu sempat bertanya tentang perubahanku yang cukup menyetrum untuknya. Tapi aku tak mau bilang ini semua demi Eric. Soalnya aku takut Lulu akan tersinggung karena selama ini selama ini ia sudah rela jadi miss telat hanya untuk menunggui aku. Sebenarnya mungkin ia senang karena perubahanku cukup positif. Tapi lebih mungkin lagi kalau ia marah karena aku tak pernah lagi ke sekolah bareng dengannya. Jadi tolong jangan sampai Lulu tahu ya...........

Mungkin hari ini adalah hari keberuntunganku. Soalnya sejak sebulan Eric jadi bagian di kelasku, baru kali ini aku dapat kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Secara tidak sengaja Flo, teman sekelasku, bercerita tentang keresahan Eric. Katanya saat ini ia sedang giat-giatnya ikut kegiatan kursus modeling karena minggu depan ia akan ikut sebuah perlombaan. Makanya ia uring-uringan karena kebetulan guru Bahasa ngasih tugas buat makalah. Sebenarnya ia bisa nyontek sih, tapi gurunya minta supaya kami melakukan observasi langsung dan mencantumkan nama dan tanda tangan orang yang terlibat dalam observasi itu. Em...menurutku tugas kali ini memang sulit. Jadi wajar Eric panik begitu. Dan ternyata tugas itu penambah nilai semester.. jadi semakin lengkap alasan Eric untuk panik.

Tapi tenang saja, kan ada aku! Demi Eric aku rela mengerjakan tugas itu kok. Aku sangat senang saat melihat Eric tersenyum begitu hangat padaku. Aku sangat menikmati deretan gigi putihnya. Ah..soulmateku sayang...

Awalnya aku kira tugasnya gampang tapi ternyata lumayan susah juga. Aku sempat bingung tapi untungnya ada Lulu. Awalnya ia ogah, tapi setelah aku mengiming-iminginya kaos Manggoko ia jadi luluh juga. Biarlah kaos itu jadi milik Lulu asalkan aku dapat senyum Eric.

Kerja kerasaku nggak sia-sia. Aku dan Eric dapat nilai A untuk tugas itu. Wah...Eric tambah dekat denganku. Ia tiap hari menyempatkan waktunya di sekolah untuk ngobrol denganku. Em..tepatnya ia yang bercerita tentang karir modeling juga bandnya yang sudah hampir rekaman. Sebenarnya aku nggak suka dengan topik itu tapi karena ini menyangkut Eric aku terpaksa menjelma jadi pendengar paling setia.

”Ayolah, baru kali ini kan gue memohon sama lo!!” Lulu merengek di siang bolong. Aduh....”lo kan nggak punya acara hari itu...” lanjutnya mulai kesal. Siapa bilang...!?! Hari minggu besok aku ada kencan dengan Eric, dan itu kencan pertama kami. ”Kok diam, jadi nggak lo nemanin gue?”

”Ngg..g.. nggak bisa Lu, soalnya gue ada acara.” Aduh semoga Lulu percaya.

“Kamu tega Nes. Gue kan mau traktir lo. Hari itu hari spesial buat gue! Batalin acaranya saja...bisa kan?!!” Lulu mulai merengek lagi. Nggak mungkin dong dibatalin, gimana kalau Eric nembak gue malam itu....,aku panik dalam hati.

”Eh hari senin aja, pulang dari sekolah.” aku mulai mencari hari lain buat Lulu. Tapi Lulu hanya menggeleng. Aduh...bagaimana ya, aku juga bingung sih!! Tapi kan Lulu cuma mau traktir, sedangkan Eric ngajak aku kencan.

***

Akhirnya penantianku untuk kencan dengan Eric datang juga!! Aku sempat snewen hari sebelumnya. Soalnya aku benar-benar bingung mau pakai apa. Nggak mungkin kan aku pakai jeans dan t-shirt untuk dinner!! Biasanya orang pakai gaun dan high heels. Ih...dengar itu saja aku sudah bergidik. Tapi apa boleh buat, demi Eric akhirnya aku harus rela pakai gaun dan jalan sambil berjinjit.....ups pakai high heels maksudku. Serius...aku lebih suka disuruh men-drible bola 1000 kali dibanding pakai high heels. Meskipun aku suka salon, tapi high heels........NO WAY!! Tapi sekali lagi...demi Eric aku bisa kokkkkkk.

”Tau nggak...” Eric menatapku. ”Kemarin aku dapat tawaran iklan” ucap Eric bangga. Aku pura-pura ikut senang padahal sebenarnya aku mulai tidak nyaman dengan diriku sendiri. Bagaimana tidak, ternyata Eric mengajakku dinner di restoran mewah pinggir pantai. Aku pasti sukses masuk angin dengan gaun malam yang atasannya terbuka. Jadi sehebat apapun cerita Eric, aku pasti tidak akan terkesan. Aku memang kejam tapi jangan salahkan aku. Aku jauh lebih tersiksa dengan keanehanku malam ini. ”Em.kamu kenapa? Sakit...” Eric mulai menyadari semuanya. Oh.....God, jangan...Eric soulmateku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap merasa nyaman di dekatnya.

”Nggak kok Ric, aku cuma kagum saja dengan prestasi kamu” Aku mulai bohong lagi. ”Ngomong-ngomong iklan apa?” Semoga iklan susu pembentuk otot perut supaya aku tahu perut Eric six pack atau tidak. Soalnya aku tidak suka cowok keren dengan perut gendut.

”Iklan kopi instan.” jawabnya. Aku mendengus.”Hey lo suka kopi.....?”tanyanya. Aku menggeleng. ”Bagus Nes! Soalnya kopi nggak baik buat kesehatan.” Eric berseloroh. Aku pikir dia tak bisa cerita hal lain kecuali dirinya sendiri. ”Kandungan nikotinnya itu yang bikin bahaya.” lanjutnya. Hampir saja aku mengangguk membenarkan. Nikotin?!!! Bukannya kafein!? Ah mungkin dia salah sebut. Aku menunggu Eric meralat kata-katanya. Tapi sudah sekian menit ia tidak melakukan itu juga. Apa ia tidak tahu...ah mana mungkin!!

”Eric...bukan nikotin tapi kafein...”ucapku hati-hati. Aku tidak mau ia tersinggung. Ia menatapku aneh. Seolah-olah aku yang salah..

”Sayang...kandungan kopi itu nikotin, sepupuku yang bilang begitu!” ucapnya seolah-olah ia orang paling pintar sedunia. Aku meringis....seharusnya aku senang karena untuk pertama kalinya ia memanggilku ’sayang’. Tapi kenyataannya tidak . Aku malah Ill feel. Ah...aku tak boleh berfikir Eric bodoh!!

”Coba kamu ingat-ingat deh...sudah betul nikotin kan...!!” Ucapnya lagi. Aku terpaksa mengangguk.”Ya sudah sayang...kadang memang kita tidak care pada pengetahuan seperti itu....!” Ih.....aku semakin ill feel dengan kalimat terakhirnya. Ia mulai menganggap aku yang bodoh...

”Iya mungkin aku yang lupa...” ucapku kemudian sambil tersenyum. Eric kelihatan begitu puas. Biarlah...yang penting ia tetap nyaman denganku.

”Eh kok diam sih Nes...coba cicipi anggurnya. Nggak ada alkoholnya kok....” aku mengiyakan. Huh..mudah-mudahan anggurnya bisa menaikkan mood ku! ”Gimana enak kan?!” sekali lagi aku mengangguk. ”Grape memang minuman bercita rasa mewah...”Aku melongo. Grape....?! Nggak tepat banget sih!

”Kok grape...?” ucapku pelan. Eric kembali kelihatan sok tahu. Pandangannya seperti meremehkanku. Shit!!

”Bahasa ingrisnya anggur kan GRAPE....jangan bilang lo nggak tahu kalau yang kita minum itu anggur...”. Aku mendongak pasrah. Wine kale.....

Huh Eric betul-betul sukses membuat aku masuk angin dan ill-feel. Setelah Kafein-gate dan Garape-gate aku merengek untuk diantar pulang secepatnya. Setengah bingung ia mengantar aku pulang sampai di rumah. Ih…aku benar-benar nggak nyangka dia sebodoh itu. Dia bukan soulmate ku! Rasanya aku ingin menjitaknya jika ingat bagaimana bodohnya aku nongol pagi-pagi di sekolah, mengerjakan tugasnya dan harus kehilangan kaos Manggoku! Aku teringat Lulu...

Ya ampun LULU....ternyata hari ini Lulu ulang tahun!!!!!!!!!!!! Pantas kemarin ia mati-matian mengajakku keluar...aduh keterlaluan banget sih aku! Ah pokoknya aku harus ke rumah Lulu nanti, tegasku dalam hati.

Setelah sampai di rumah aku menghambur tak berbasa-basi lagi dengan Eric. Aku malas. Aku mau langsung ganti baju dan ke rumah Lulu....... tapi....

”Jadi lo jalan sama Eric?” Lulu menatapku sinis. Aku hampir saja lunglai.. Ternyata dari tadi ia menungguku di teras depan rumah. Tatapan sinis Lulu membuatku kikuk. Kali ini aku pasti akan diomeli habis-habisan. Soalnya ia tak pernah terlihat semarah malam ini. Sampai-sampai matanya memerah. Aduh ampun Lu....suer malam ini adalah malam paling penuh kejutan buatku. Tak seharusnya aku mengabaikan Lulu hanya karena Eric si keren dengan otak jongkok itu....

Diposkan oleh aqla siput Label:
Kamis, 24 April 2008 di 04:44 | 0 komentar  
hahahahaha
Diposkan oleh aqla siput
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum