Eforia Nisan Kejujuran
Haqrah dewi
Rupanya tak ada yang bisa lagi dipertahankan di sini. Yang namanya kejujuran entah sudah melapuk, busuk dan terlupa. Sedari tadi aku mencarinya. Tapi tak ujung jua nampaknya kudapat. Entah karena borok di mataku atau wujudnya sudah demikian usang untuk dikenal lagi. Yang sedari tadi bercokol hanya dia. Dengan garang matanya yang menohok ia mengamatiku. Aku layu dalam rasa sendiri, ia kini sudah hilang. Tak tahu ke mana. Bosan rasanya harus mengeruk idealisme yang didiktatori oleh nadi-nadi kenaifan sendiri. Aku butuh dia. Dan sekarang ia sudah musnah ditelan, terkemuflase sebagai nisan dalam sejarah. Sejarah dalam tanda kutip “Tidak untuk diingat”.
Sudah lama aku di sini. Menunggu tanpa kata. Hanya mataku yang sedemikian jelalatan menyapu tiap sudut. Tapi aku tetap luput dari dia. Mataku sudah begitu mendambanya. Sekian waktu sudah kulewati tanpa cengkrama dengannya. Tanpa hangatnya bauran rasa. Kini aku mencarinya di sini. Tapi hasilnya nihil. Ia mungkin masih enggan tuk tampak. Kian tak terjamahlah ia dari jangkauannku. Sungguh kami dulu adalah dua keping yang berbeda yang entah atas kuasa siapa bisa beronani pada titik yang sama. Itu dulu. Sekarang kami benar-benar adalah dua keping yang terpisah tanpa bisa bergulat lagi pada titik yang sama. Kami sudah terpisah oleh medernisasi.
Kata mereka, sahabatku itu telah larut pada kata musnah. Terhenyak pada bingkai kata terbuang. Ia malu kini menampakkan mukanya. Tapi entah kenapa aku terus saja menantinya. Pelik rasanya terus begini. Berada pada ruang asing tanpa ada satu halpun yang dikenal. Seperti itu aku sekarang. Sendiri bertempur dengan arus tak bertepiku yang ganas. Entah itu harus kupanggil rasa takut atau rasa kehilangan. Mungkin keduanya.
Aku masih mencarinya. Menepikan mataku pada sosoknya yang mungkin ada di sini. Tak ada hasil. Yang kulihat hanyalah mereka yang sedang sedu sedan bersama lolongan girang tak terhingga. Aku mengenal salah satu dari mereka. Tapi lidahku menolak mengeja abjad namanya. Ia terlalu garang untuk ku sebut. Mata kami sempat bergulat pada detik yang lalu. Tapi buru-buru kualihkan. Aku tak berani membiarkan retinaku terkoyak bara matanya. Ia adalah sosok asing yang bersebrangan dengan kami. Aku dan sahabatku.
Mata kami kembali beradu. Syahdu nian suasana hening itu. Tapi kemudian berjingkaklah aroma kebahagiaan yang sangat. Aku tak berani menepikan tatapanku di retina matanya lagi. Tak sanggup. Ia kelihatan sangat bahagia. Mata garangnya tak henti mengerjap. Sungguh ia sangat bahagia. Tapi saat ia menatapku, sepersekian detik ia meratap lalu berucap bengis tanpa intonasi.
“Lupalah kau pada dia!!! Seperti kami yang sudah membuang ia ke tempat tak bertepi. Jangan lagi kau ingat dia. Kini kau sendiri….ha..ha..ha..”. tawa itu membuat ulu hatiku beringsut tidak karuan. Ia menjerit tak terkira. Memang aku benar-benar sendiri sekarang. Limbung di sudut pengap tanya. Tanya yang tak pernah akan terjawab. Mungkin aku juga harus mempersiapkan nisanku sedari kini.
“Benar. Kami sedang merayakan semarak hari ini. Sebuah eforia nisan kejujuran. Tak akan ada lagi dia di sini. Sungguh ini adalah kemenangan sepanjang waktu….” Ucap yang lainnya masih dalam satu frame kebahagiaan. Aku tak mengenalnya. Tapi ia sama-sama merayakan kepergian sahabatku. Aku semakin terbuang di celah pikiranku sendiri yang semakin sempit. Sungguh tak adakah yang tersayat ibanya saat dia telah pergi?
“Ha..ha..ha iba?!!!” tiba-tiba ia kembali bersuara. Sunguh aku tak bisa mencegah rasa kagetku menari di ubun. Ia tahu hatiku menyeruak. Ia tahu fikiranku mengagas. Ia telah meraja di tiap jengkal nafasku. “Tak ada yang iba padanya. Ia sudah lama menjadi tameng tak berperasaan bagi para manusia modern. Ia sudah menjadi idealisme terbuang yang sudah tidak layak lagi…..dan kukatakan padamu sebaiknya mulailah meretas pada perubahan ini supaya kami tak perlu lagi menari-nari di atas nisanmu seperti dia.”
Aku semakin tersungkur. Membayangkan mereka membahak di atas nisanku kelak membuat jari-jari semangatku kerdil. Haruskah manusia kutinggal dengan hati yang benar-benar telanjang?! Tak berbalut apapun. Sekarang saja mereka sudah sedemikian asing dengan sahabatku yang baru pergi sekian waktu yang lampau. Bagaimana jika aku juga menjadi bagian dari sejarah dengan sejuta kutip itu? Lalu apakah mereka benar-benar harus beralih pada si pemilik tatapan garang itu. Sungguh aku tak sanggup membayangkan hal itu. Aku harus membangun optimismeku yang tercekat bersama pekat. Yang menyungsep tanpa wujud. Aku harus membangunkannya.
“Kenapa kau diam? Sungguh tak masukkah semua kata-kataku dalam pikirmu?” ia kembali berkelakar. Masih tanpa intonasi jelas. Aku tersadar . Dengan rasa gamang yang sangat aku menantang matanya. Mencoba menyusun kata yang bisa membuat ia yakin aku masih bisa ada meski tanpa sahabatku….toh dengan aku saja mungkin sudah cukup……….
“Mereka memang sudah mulai kehilangan semuanya. Kalianlah yang menjadi raja diraja dari mereka. Tapi bukan berarti aku harus merelakan semuanya pada kalian. Sungguh jangan pernah berfikir demikian karena hal itu tak akan terjadi.” Dengan sedikit keberanian aku bertuah. Menyembunyikan rasa kecewa yang terus menggeliat di balik hatiku. Jangan sampai ia tahu itu. Ia akan merasa menang nantinya. Tapi sungguh itu hal yang mustahil. Bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan rasa kecewaku, sedang manusia sekarang benar-benar sudah tak mengenal kami lagi!!!!! Pada akhirnya merekalah yang akan menggiring kami pada nisan sejarah. Sebuah sejarah yang tak punya tempat di kepala mereka untuk diingat lagi.
“Mungkin kau memang tak akan pernah merelakan hal itu terjadi. Tapi bukankah temanmu itu terlupa dengan sendirinya?!! Dan ia tak bisa menghindar karena manusialah yang menghendaki. Dak kamilah yang pada akhirnya menjadi tameng hidup mereka, panutan dalam segala hal….,kalian benar-benar telah terlupa.” Ia mencibirku. Membuatku semakin kehilangan rasa optimis yang mungkin sekarang sudah menguap. Ia benar. Manusialah yang mau begitu. Kami hanya pilihan. Tak bisa ngotot untuk dipilih. Manusia-manusia itu tetap tonggak segalanya.
“Rupanya kini kau mengerti” ia bersuara lagi. Aku tenggelam dalam desahannku. Ia kelihatan sangat puas.
“Aku sangat tahu merekalah yang jadi penentu segalanya. Kami hanyalah salah satu pilihan dalam sekian banyak pilihan yang mereka punya dalam hidup mereka. Tapi bukankah jauh lebih baik menjadi pilihan yang akan tetap ada daripada menjadi onggokan terbuang. Aku tak mau terbuang. Aku akan tetap ada meskipun hanya segelintir dari orang-orang itu yang memilih aku.” Aku mendesis. Kata-kataku membuatnya menekuk muka.
“Mungkin kau memang tak akan musnah dalam artian yang sesungguhnya. Tapi kau akan tetap menjadi pilihan bagi mereka yang tak akan pernah terpilih. Bukankah hal itu lebih mengecewakan.” Ucapnya tanpa membiarkan mataku beralih kemana-mana. “ Sudahlah, jangan kau gamang dalam tunggumu yang tak bertepi itu. Mari larut bersama kami dan rayakan kematian sahabatmu itu. Dan tentu kau akan kembali menjadi pilihan terpilih dalam hidup para manusia.. tapi syaratnya kau harus jadi bagian dari kami” Ia menawarkan ku sesuatu yang sangat mustahil. Aku menggeleng tegas. Lebih baik aku menangis di atas nisanku sendiri ketimbang harus merayakan eforia itu di atas nisan sahabatku. Lagi pula aku masih percaya aku dan sahabatku masih dibutuhkan, mungkin waktu mendatang….kami akan selalu percaya itu. Aku membatin dalam bimbang ragaku.
“Maka berdirilah dalam tempat terbuang itu.” Ucap si pemilik mata garang itu. Sekali lagi ia menelanjangi pikiranku. Ia kemudian pergi. Ia dan semua perayaan itu. Sekarang aku tinggal sendiri di depan nisan yang masih menyisakan sejumput sedih di kelopak mataku.. Iya, panggillah aku si goblok karena masih menunggu si empunya nisan untuk bangkit.. Mereka menamainya KEJUJURAN dan aku mereka panggil dengan sebutan KEADILAN. Sedangkan aku dan sahabatku menamai mereka KESERAKAHAN.
Lalu tanyakanlah padaku segera seolah kalian terseok dalam bimbang! Memangnnya tanpa kejujuran mana ada keadilan ?!!! Terlalu naïf rasanya mengadu keadilan dan keserakahan. Jika kejujuran mati maka semuanya juga akan mati!!! Aku yang kalian panggil keadilan ini baru akan ada jika temanku yang kupanggil kejujuran itu ada, karena semuanya dimulai dari situ! Lalu jangan menuntut aku yang kalian panggil Keadilan ini ada jika jauh hari yang lalu kalian manusia sudah binal membunuh ‘Kejujuran’!!!!!!!
Aku mulai meratap pedih memikirkannya. Aku di sini hanya menunggu mati saja bukan? Dan malaikat pun menangis untukku….

